Watoe Dhakon Observatory  Fakultas Syariah UIN Ponorogo Lakukan Pengukuran Arah Kiblat Masjid Adhiya’ Wonoketro, Dukung Akurasi Kiblat Pasca-Renovasi

Ponorogo – Watoe Dhakon Observatory (WDO) bersama Reog Astronomy Club (RAC) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo melaksanakan pengukuran arah kiblat di Masjid Adhiya’, Wonoketro, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai ini dilaksanakan atas permintaan pihak masjid sebagai bagian dari upaya memastikan ketepatan arah kiblat setelah renovasi bangunan.

Pengukuran tersebut dipimpin langsung oleh Imroatul Munfaridah, M.S.I., Koordinator Laboratorium Ilmu Falak Watoe Dhakon Observatory UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Ia didampingi oleh dua anggota tim Reog Astronomy Club, yakni April dan Fatma. Keterlibatan tim ini menjadi bentuk kontribusi nyata laboratorium ilmu falak dan komunitas astronomi kampus dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

Kegiatan pengukuran disaksikan langsung oleh Ketua Takmir Masjid Adhiya’ beserta jajarannya, donatur, serta para pekerja dan masyarakat setempat. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan perhatian bersama terhadap pentingnya ketepatan arah kiblat sebagai salah satu aspek mendasar dalam pelaksanaan ibadah salat.

Permintaan pengukuran arah kiblat ini menjadi momentum penting bagi pengelola Masjid Adhiya’ untuk memastikan orientasi bangunan masjid sesuai dengan arah kiblat yang semestinya. Terlebih, proses renovasi bangunan merupakan kesempatan yang tepat untuk melakukan pemeriksaan dan kalibrasi arah kiblat agar penataan ruang ibadah dapat disesuaikan dengan hasil pengukuran yang akurat.

Dalam kegiatan tersebut, Imroatul Munfaridah menyampaikan pentingnya kalibrasi arah kiblat, khususnya bagi masjid yang sedang atau telah menjalani renovasi. Menurutnya, pemeriksaan arah kiblat perlu dilakukan agar orientasi bangunan dan barisan saf benar-benar mengarah ke kiblat, bukan sekadar mengikuti arah barat secara umum.

Ia menjelaskan bahwa arah kiblat bagi umat Islam di Indonesia tidak selalu tepat berada pada arah barat. Secara geografis, arah kiblat menuju Ka’bah di Makkah berada pada arah barat laut dari sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Ponorogo. Oleh karena itu, penentuan arah kiblat perlu didasarkan pada perhitungan ilmu falak dan metode pengukuran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kalibrasi arah kiblat juga memiliki manfaat praktis bagi kenyamanan jamaah ketika melaksanakan salat. Dengan arah kiblat dan orientasi saf yang telah ditentukan secara tepat, pengelola masjid dapat menata barisan salat sesuai hasil pengukuran sehingga jamaah tidak perlu lagi mengatur posisi sajadah dengan memiringkannya sedikit ke arah utara hanya untuk menyesuaikan arah kiblat.

Dalam perspektif ilmu falak, pengukuran arah kiblat merupakan penerapan ilmu astronomi dan geografi untuk menentukan arah terpendek menuju Ka’bah. Proses ini memerlukan ketelitian dalam perhitungan serta pelaksanaan pengukuran di lapangan. Karena itu, keterlibatan tenaga yang memahami ilmu falak menjadi penting agar hasil pengukuran dapat menjadi acuan bagi pengelola masjid.

Bagi Watoe Dhakon Observatory, kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi edukasi dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang ilmu falak. Laboratorium tidak hanya menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan pengetahuan di lingkungan kampus, tetapi juga berperan membantu masyarakat memahami penerapan ilmu falak dalam kebutuhan ibadah sehari-hari.

Sementara itu, partisipasi Reog Astronomy Club memperlihatkan sinergi antara laboratorium ilmu falak dan komunitas mahasiswa dalam mengembangkan pengalaman praktis. Melalui keterlibatan langsung di lapangan, anggota RAC berkesempatan memperkuat pemahaman mengenai pengukuran arah kiblat sekaligus belajar berinteraksi dengan masyarakat dalam kegiatan berbasis keilmuan.

Kegiatan pengukuran di Masjid Adhiya’ Wonoketro ini juga menjadi sarana membangun kesadaran masyarakat bahwa ketepatan arah kiblat merupakan hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika melakukan pembangunan maupun renovasi tempat ibadah. Pemeriksaan arah kiblat secara tepat dapat membantu pengurus masjid menentukan orientasi saf yang sesuai dan memberikan kepastian kepada jamaah dalam menjalankan ibadah.

Melalui kegiatan ini, Watoe Dhakon Observatory dan Reog Astronomy Club Fakultas Syariah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo berharap dapat terus memperluas kontribusi ilmu falak bagi masyarakat. Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, pengurus masjid, dan masyarakat menjadi langkah penting dalam menghubungkan keilmuan dengan kebutuhan nyata umat. Pengukuran arah kiblat di Masjid Adhiya’ Wonoketro pun menjadi wujud nyata bahwa ilmu falak tidak hanya dipelajari secara teoritis, tetapi juga diterapkan untuk mendukung ketepatan ibadah dan kemaslahatan Masyarakat

Kontributor : Tim RAC

Editor : FMC

Bagikan Artikel
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
LANGUAGE »