Dua Pengurus Reog Astronomy Club UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Raih Perunggu di Ajang OPI 2026, Riset Anak Syariah Tembus Panggung Saintek Nasional

Yogyakarta, 9 Mei 2026 – Diam-diam, dari ruang-ruang kecil diskusi, dari langit Ponorogo yang sering mereka amati, dua anggota Reog Astronomy Club Fakultas Syariah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo membuat kejutan besar. Muhammad Nafis Abdul Majid dan Abu Dar Al Bantani, dua pengurus RAC periode 2025-2026, sukses meraih medali perunggu dalam ajang Olimpiade Penelitian Indonesia (OPI) Tahun 2026.

Prestasi ini bukan sekadar kabar gembira. Ini adalah sinyal keras bahwa mahasiswa Fakultas Syariah tidak hanya piawai membaca teks-teks hukum, tetapi juga mampu membaca tanda-tanda alam, mengolah data, merumuskan masalah, dan menjawab tantangan zaman melalui riset sains dan teknologi.

OPI 2026 mengusung tema besar “Penelitian dan Inovasi untuk Indonesia Berdampak” dengan grand final luring di Yogyakarta pada 9 Mei 2026. Bidang kompetisinya meliputi Saintek, Soshum, serta Inovasi Terapan dan Interdisipliner.  Dalam ajang tersebut, Nafis dan Abu Dar masuk pada kategori Ilmu Pengetahuan Alam, Sains, dan Teknologi, sebuah kategori yang menuntut ketelitian, daya analisis, kekuatan metodologi, serta kemampuan menyajikan gagasan secara ilmiah.

Yang membuat capaian ini semakin mencuri perhatian adalah latar keduanya sebagai aktivis astronomi kampus. Melalui RAC, keduanya terbiasa bersentuhan dengan tradisi observasi, pengukuran, pencatatan fenomena langit, serta pembacaan data berbasis instrumen. Kultur inilah yang tampaknya membentuk keberanian mereka untuk masuk ke gelanggang penelitian nasional.

Tema riset yang mereka angkat bergerak dalam semangat besar sains terapan: menjadikan ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi hadir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat. Dalam konteks RAC, riset semacam ini memiliki ruh yang kuat: menghubungkan astronomi, teknologi, literasi ilmiah, dan kebermanfaatan sosial. Dengan kata lain, langit tidak hanya dipandang sebagai objek kekaguman, tetapi juga sebagai laboratorium pengetahuan yang dapat melahirkan inovasi.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendampingan Imroatul Munfaridah, M.S.I. sebagai dosen pembimbing RAC sekaligus Koordinator Wathoe Dhakon Observatorium Fakultas Syariah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Di balik medali perunggu itu, ada proses panjang: menyusun ide, merapikan proposal, memperkuat metode, menajamkan analisis, hingga melatih mental presentasi.

Fakultas Syariah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo patut berbangga. Prestasi Nafis dan Abu Dar membuktikan bahwa iklim akademik yang hidup akan selalu melahirkan kejutan. Hari ini, RAC tidak hanya berbicara tentang bintang. RAC sedang menunjukkan bahwa dari Fakultas Syariah, riset sains pun bisa menyala terang.

Kontributor: Tim RAC

Editor: FMC

Bagikan Artikel
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
LANGUAGE »