Gus Rijal dan Seni Merawat Nalar Mahasiswa*

Ada narasumber yang datang membawa materi. Ada pula narasumber yang datang membawa pengalaman, ingatan, keluasan bacaan, dan cara bertutur yang membuat sebuah forum akademik terasa hidup. Dalam Studium Generale Fakultas Syariah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (06/05/2026), Dr. H. Rijal Mumazziq Z., M.H.I. (biasa dipanggil Gus Rijal) hadir dalam kategori kedua.

Gus Rijal tidak sekadar menyampaikan tema “Menjaga Fokus, Merawat Nalar: Menjadi Mahasiswa di Era Digital”, tetapi menjelmakan tema itu dalam dirinya: seorang pembaca, penulis, penggerak, sekaligus pendidik yang percaya bahwa masa depan mahasiswa hanya bisa dikawal dengan kewarasan berpikir dan ketekunan mengasah kemampuan.

Gus Rijal adalah sosok yang menarik karena hidup di persilangan beberapa dunia sekaligus. Ia lahir dari tradisi pesantren, tumbuh dalam kultur literasi NU, aktif dalam dunia pendidikan tinggi, dan memiliki kepekaan sosial yang kuat. Ia dikenal sebagai penulis yang akrab dengan kritik sosial-keagamaan, sekaligus akademisi yang menaruh perhatian pada sejarah, sanad keilmuan, dan gerakan pengabdian.

Karena itu, tema Studium Generale kali ini terasa menemukan pembawanya yang tepat. Di tangan Gus Rijal, “era digital” tidak dibaca semata sebagai soal gawai, media sosial, atau distraksi teknologi, tetapi sebagai tantangan kebudayaan: bagaimana mahasiswa tetap waras, tetap bernalar, tetap membaca, dan tetap memiliki arah di tengah arus informasi yang sering lebih gaduh daripada mencerahkan.

Kekuatan Gus Rijal bukan hanya pada isi, tetapi juga pada daya ingat dan cara hadirnya. Saya terkesan ketika beliau masih mengingat sebuah SMS yang pernah saya kirim setelah beliau menikah – sebuah peristiwa kecil yang bahkan saya sendiri sudah lupa. Ingatan semacam itu bukan sekadar kemampuan kognitif. Ia menunjukkan perhatian, keakraban, dan penghargaan terhadap jejak perjumpaan.

Dalam dunia akademik yang sering bergerak cepat dan administratif, kemampuan mengingat manusia sebagai manusia adalah sesuatu yang langka. Dari situ terlihat bahwa literasi Gus Rijal bukan hanya literasi teks, tetapi juga literasi relasi: kemampuan membaca orang, membaca pengalaman, dan membaca zaman.

Materi yang dibawakan Gus Rijal menjadi kuat karena bertemu dengan pengalaman hidupnya sendiri. Ia berbicara tentang fokus, nalar, kemampuan, dan masa depan bukan dari jarak yang dingin, tetapi dari pergulatan seorang intelektual yang telah lama bersentuhan dengan buku, organisasi, kampus, pesantren, dan masyarakat.

Mahasiswa tidak hanya diberi nasihat agar rajin belajar, tetapi diajak memahami bahwa menjadi terdidik berarti memiliki disiplin batin: mampu memilih yang penting di antara yang bising, mampu bertahan dalam proses, dan mampu menjaga akal sehat ketika dunia digital terus menggoda manusia untuk tergesa-gesa, reaktif, dan dangkal.

Gaya penyampaiannya membuat forum dua jam tidak terasa sebagai beban. Kalimatnya mengalir, humornya hadir pada tempat yang tepat, dan joke-jokenya membuat mahasiswa betah duduk, menyimak, dan tertawa tanpa kehilangan substansi. Pada titik ini, saya teringat kepada almarhum Prof. Dr. Imam Mawardi, teman satu kelas saya semasa S3 yang pernah saya undang dalam forum yang sama.

Ada kesamaan dalam kemampuan menghidupkan ruang akademik: serius tetapi tidak kaku, dalam tetapi tidak menekan, bernas tetapi tetap komunikatif. Ini bukan kemampuan teknis berbicara semata, melainkan seni pedagogis, yakni kemampuan menjadikan ilmu sebagai perjumpaan yang manusiawi.

Bagi mahasiswa Fakultas Syariah, kehadiran Gus Rijal memberi pesan yang penting. Menjadi mahasiswa hukum Islam hari ini tidak cukup hanya menguasai norma, pasal, dalil, atau teori. Mereka perlu memiliki kewarasan intelektual: kemampuan membedakan pengetahuan dari kebisingan, argumen dari opini, dan kedalaman dari sekadar viralitas.

Di era digital, mahasiswa yang tidak merawat nalar akan mudah menjadi konsumen informasi. Tetapi mahasiswa yang diasuh kemampuan berpikirnya akan tumbuh menjadi subjek: pembaca yang kritis, penulis yang jernih, profesional yang beretika, dan sarjana syariah yang mampu mengawal masa depan dengan ilmu.

Studium Generale ini akhirnya bukan hanya rutinitas forum akademik. Ia menjadi ruang pengingat. Bahwa kampus harus terus menghadirkan figur-figur yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga memiliki hidup yang bisa dibaca. Gus Rijal hadir sebagai narasumber, tetapi yang tertinggal lebih dari sekadar materi.

Yang tertinggal adalah kesan tentang pentingnya literasi, ketekunan, humor, ingatan, dan kecintaan pada ilmu. Di tengah zaman yang sering membuat mahasiswa cepat lelah, cepat bosan, dan cepat kehilangan fokus, suara seperti Gus Rijal perlu terus dihadirkan: suara yang mengasah kewarasan, mengasuh kemampuan, dan mengawal masa depan. (*Abid Rohmanu, Wadek I Fasya)

Bagikan Artikel
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
LANGUAGE »