Ponorogo – Suasana Lapangan Alun-Alun Ponorogo semakin semarak dengan digelarnya kegiatan Observasi Bulan Purnama yang dirangkai dalam acara Gelar Reog Bulan Purnama. Kegiatan ini menjadi kolaborasi antara Watoe Dhakon Observatory (WDO), Reog Astronomy Club (RAC), dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, sekaligus menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat untuk menikmati keindahan seni budaya dan langit malam Bumi Reog.
Mengusung semangat “Semangat Astronomi di Bumi Reog”, kegiatan tersebut memadukan dua kekayaan yang dimiliki Ponorogo, yakni seni budaya Reog dan ketertarikan masyarakat terhadap astronomi. Observasi Bulan Purnama menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian masyarakat karena memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat permukaan Bulan secara lebih dekat menggunakan teleskop yang disiapkan oleh tim Reog Astronomy Club.
Sejak acara berlangsung, masyarakat yang hadir tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak dan para peserta seni juga terlihat penasaran untuk mencoba mengarahkan pandangan ke Bulan melalui teleskop. Kesempatan melihat Bulan secara langsung melalui perangkat astronomi tersebut menjadi pengalaman menarik bagi masyarakat yang selama ini mungkin hanya melihat Bulan dengan mata telanjang.
Antusiasme semakin terasa karena kegiatan observasi tersebut berlangsung bersamaan dengan rangkaian pertunjukan seni dalam Gelar Reog Bulan Purnama. Masyarakat dapat menikmati suasana malam di alun-alun sembari menyaksikan penampilan tari dari berbagai sanggar serta pertunjukan Reog. Kehadiran teleskop di tengah keramaian pertunjukan budaya menjadikan malam itu terasa berbeda, karena masyarakat dapat menikmati seni sekaligus mendapatkan pengalaman astronomi.
Tidak hanya penonton, para peserta tari yang baru selesai tampil juga turut mencoba meneropong Bulan. Dengan pendampingan dari tim Reog Astronomy Club, mereka secara bergantian mendapatkan kesempatan mengamati Bulan melalui teleskop. Tim RAC membantu mengarahkan teleskop sekaligus memberikan penjelasan sederhana kepada masyarakat mengenai objek langit yang sedang diamati.
Pada pembukaan acara, pembawa acara atau MC mempersilakan tim Reog Astronomy Club untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat yang hadir. Kesempatan tersebut menjadi ruang bagi RAC untuk mengenalkan aktivitas astronomi yang selama ini dilakukan serta menyampaikan bahwa astronomi tidak hanya dapat dipelajari di ruang kelas, tetapi juga dapat diperkenalkan secara langsung melalui kegiatan observasi di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, perkenalan tim Reog Astronomy Club diwakili oleh Imroatul Munfaridah, M.S.I., yang akrab disapa Farida. Ia merupakan koordinator Watoe Dhakon Observatory sekaligus pembina Reog Astronomy Club yang selama ini terus mendampingi para anggota RAC dalam berbagai kegiatan. Kehadiran dan pendampingannya menjadi bagian penting dalam proses pengembangan kegiatan astronomi yang dilakukan oleh komunitas tersebut.
Koordinator WDO menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo yang telah memberikan kesempatan kepada Reog Astronomy Club untuk memperkenalkan kegiatan mereka secara langsung kepada masyarakat di panggung utama Alun-Alun Ponorogo. Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi ruang yang sangat berarti untuk memperkenalkan astronomi sekaligus mendekatkan kegiatan komunitas kepada masyarakat luas.
Dalam sambutannya, Koordinator WDO juga memperkenalkan visi dan misi Reog Astronomy Club. Kehadiran RAC diharapkan tidak hanya menjadi wadah bagi mereka yang memiliki ketertarikan terhadap astronomi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pengenalan ilmu astronomi kepada masyarakat, khususnya generasi muda di Ponorogo.
Setelah penyampaian visi dan misi, Anggota RAC turut menyampaikan berbagai program kegiatan yang dilakukan oleh Reog Astronomy Club. Ia menjelaskan bahwa RAC berkomitmen untuk terus hadir di tengah-tengah masyarakat melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan astronomi. Program tersebut diharapkan dapat membuka ruang belajar yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat terhadap langit dan benda-benda langit.
Kegiatan observasi Bulan Purnama pada malam itu menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut. Astronomi dibawa keluar dari ruang-ruang pembelajaran dan dihadirkan langsung di ruang publik. Masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi secara lisan, tetapi juga dapat mengalami sendiri bagaimana proses pengamatan benda langit menggunakan teleskop.
Kolaborasi dengan Dinas Pariwisata dalam rangkaian Gelar Reog Bulan Purnama juga menunjukkan bahwa astronomi dapat berjalan beriringan dengan kegiatan budaya dan pariwisata. Langit malam menjadi bagian dari pengalaman wisata masyarakat, sementara Alun-Alun Ponorogo menjadi ruang pertemuan antara budaya lokal, edukasi sains, komunitas, dan masyarakat.
Bagi Reog Astronomy Club, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk terus membangun kedekatan dengan masyarakat Ponorogo. Kehadiran RAC di panggung utama dan area observasi memberikan kesempatan kepada komunitas untuk memperkenalkan kegiatan astronomi sekaligus mengajak masyarakat mengenal langit malam dari lingkungan mereka sendiri. Semangat tersebut sejalan dengan gagasan bahwa astronomi dapat menjadi bagian dari kegiatan edukasi dan wisata berbasis masyarakat.
Sabtu Malam Minggu, tanggal 26 September 2026 akhirnya bukan sekadar malam pertunjukan Reog dan tari di Alun-Alun Ponorogo. Di bawah cahaya Bulan Purnama, masyarakat mendapatkan pengalaman untuk melihat lebih dekat salah satu benda langit yang selama ini akrab menghiasi malam. Kolaborasi Watoe Dhakon Observatory, Reog Astronomy Club, dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo menjadi langkah yang mempertemukan astronomi, budaya, edukasi, dan masyarakat dalam satu ruang. Dari Bumi Reog, semangat untuk mengenal langit pun terus dinyalakan.
Kontributor : Tim RAC
Editor : FMC




